Kamis, 20 September 2018

Kimia Kelas 12 | Cara Kerja Sel Volta

Selamat datang kembali!

Kali ini, kita tidak lagi membahas fisika dulu. Tetapi, kita akan membahas salah satu materi kimia SMA kelas 12, yaitu sel volta.
Langsung saja ya.

Sel volta/sel galvani merupakan jenis sel elektrokimia yang dapat menghasilkan energi listrik dari reaksi redoks berlangsung secara spontan. Penamaan sel volta dan sel galvani ini diberikan sebagai penghargaan terhadap kedua penemunya, yaitu Luigi Galvani dan Alessandro Giuseppe Volta.

Lalu bagaimana cara kerjanya?
source : Ruang Kimia
Zn (seng) dan Cu (tembaga) dihubungkan oleh voltmeter. Voltmeter ini digunakan untuk mengukur beda potensial di antara keduanya. Setelah itu, Zn akan melepaskan elektron alias mengalami oksidasi.

Zn(s) --> Zn(aq)2+ + 2e-

Sementara itu, Cu2+ akan menerima aliran elektron dari Zn dan mengalami reduksi.

Cu2+ + 2e-  --> Cu(s)

Karena elektron mengalir dari Zn ke Cu dan aliran muatan elektron arahnya berkebalikan dengan aliran muatan listrik, serta arus listrik mengalir dari potensial tinggi (+) ke potensial rendah (-), maka Cu mengalami reduksi sebagai katoda (+) dan Zn mengalami oksidasi sebagai anoda (-). Arus listrik mengalir dari Cu (katoda) ke Zn (anoda).

Lalu, apa fungsi jembatan garam?

Fungsi dari jembatan garam adalah untuk menetralkan kelebihan anion dan kation pada larutan dan untuk menutup rangkaian sehingga reaksi dapat berlangsung terus-menerus.


Sekian dulu dari Red Cherry. Sampai jumpa di postingan berikutnya! :)


Fisika Kelas 12 | Konsep Medan Magnet dan Hukum Biot-Savart

Hari ini, kita kembali membahas salah satu pelajaran favorit saya (saking favoritnya sampai saya ulang terus ujiannya alias remedial hehe). Namun, kita kembali dengan materi terbaru yaitu Medan Magnet. Langsung saja bahas kuy.

1. Kemagnetan dan Kutub Magnet
Jadi, apakah kalian punya kompas di rumah, atau punya temen atau punya tetangga gitu?
Pernahkah kalian memainkannya atau menggunakannya?
Kompas selalu menunjukkan arah utara dan selatan. Bahkan saat kita berusaha untuk memutar arah jarumnya, pasti akan kembali menunjukkan arah utara dan selatan. Kira-kira kenapa ya? *sokmikir*
Hal ini tentu berkaitan dengan sifat kedua kutub ketika didekatkan. Seperti yang kita ketahui, magnet punya dua kutub, yaitu kutub utara dan selatan. Kedua kutub yang sama jika didekatkan akan saling tolak menolak, sementara itu kedua kutub yang berbeda jika didekatkan akan saling tarik menarik. Bumi memiliki dua kutub, yaitu kutub utara dan selatan. Kutub utara magnet berada di kutub selatan bumi, sementara itu kutub selatan magnet berada di kutub utara bumi. Alhasil, jarum kompas yang menunjukkan arah utara akan tertarik oleh kutub selatan magnet di kutub utara bumi, dan di arah selatan akan tertarik oleh kutub utara magnet di kutub selatan bumi.
Hasil gambar untuk kutub utara dan selatan magnet
source : annhaannisa.blogspot.com
Tapi, kenapa enggak lurus ya ke arah utaranya?
Karena ada sudut deklinasi. Sumbu magnet bumi tidak persis sejajar dengan sumbu rotasi bumi sehingga pembacaan kompas agak menyimpang dari arah utara geografis.
Lalu, bagaimana jika jarum kompas didekatkan pada kawat berarus listrik? Mengapa jarumnya tidak lagi menunjukkan arah utara dan selatan? Jawabannya ada di nomor dua.

2. Medan Magnet di Sekitar Arus Listrik
Seorang Ilmuwan bernama Hans Christian Oersted melakukan percobaan dengan jarum kompas dan kawat berarus listrik pada tahun 1819. Ternyata, dari percobaan tersebut dapat dilihat bahwa jarum kompas tersebut mengalami pembelokan arah. Rupanya, ada hubungan antara medan magnetik dan muatan listrik.
Namun, sebelumnya apa itu medan magnetik?
Medan magnetik adalah daerah di sekitar magnet yang dapat menyebabkan benda atau magnet lain mengalami gaya magnetik.
Medan magnetik yang ditimbulkan oleh arus listrik sendiri disebut induksi magnetik. Sebenarnya, tidak ada perbedaan di antara medan magnetik dan induksi magnetik. So, don’t be confused.

3. Hukum Biot-Savart
Ternyata, penemuan Oersted yang tadi itu ditindaklanjuti oleh dua fisikawan Perancis yaitu Jean Baptise Biot dan Felix Savart. Keduanya mampu menemukan hal baru lebih lanjut mengenai medan magnet oleh arus listrik. Pemenuannya yaitu berhasil menentukan bentuk medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang stabil.
Kedua ilmuan Perancis ini berhasil mengamati kontribusi elemen / bagian kecil induksi magnetik dB  pada suatu titik P yang ditimbulkan oleh elemen penghantar dl yang dialiri arus listrik. 
Besarnya kuat medan magnet/induksi magnet (B) di titik P :
Hasil gambar untuk hukum biot savart
source : ilmufisika.com
1) Berbanding lurus dengan I (kuat arus)
2) Berbanding lurus dengan (dl) (panjang kawat)
3) Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara titik P ke elemen kawat penghantar (r)
4) Sebanding dengan sinus sudut apit antara arah arus dengan garis hubung antara titik P ke elemen kawat penghantar
Rumusnya :
dB = k. I dl sin (sudut)/r2

Sekian dulu dari Red Cherry, sampai ketemu lagi! :)
Sumber :
1. Pelajaran fisika kemarin.
2. Ruwanto, Bambang. 2017. Fisika SMA Kelas XII. Jakarta : Yudhistira.

3. http://www.ilmufisika.com/2018/03/medan-magnet-di-sekitar-arus-listrik.html (Author : Ragil Priya).

Rabu, 19 September 2018

Tips Sukses PTN Ala Red Cherry | Anak Kelas 12 Mari Mampir!

Hasil gambar untuk lambang ptn
sumber : se-lesprivat.com

Selamat datang teman-teman kelas 12!
Enggak terasa, sudah hampir tiga tahun kita habiskan di SMA. Kali ini, saya akan membagikan tips-tips masuk PTN yang saya dapatkan dari omongan-omongan di sekitar saya dan beberapa sumber. Karena beberapa sumbernya bukan dari artikel-artikel lain dan murni dari pemikiran yang saya dapatkan dari orang-orang, jadinya mungkin ada beberapa yang kayaknya enggak kalian dapatkan dari artikel lain (mungkin kalian juga dapat dari guru kalian (?)).

Langsung saja, ini dia ‘Tips Masuk PTN ala Red Cherry

1. Anggap aja enggak ada SNMPTN
WAIT.
Ini gimana maksudnya?
Kalau menurut analisisnya nih, murid-murid yang terlalu fokus alias terlalu berharap sama SNMPTN bakal kurang persiapannya dalam SBMPTN. Padahal, kalau kita memikirkan kemungkinan buruk (bukannya pesimis, tapi waspada), kita juga bakal mempersiapkan diri dengan kemungkinan buruk tersebut. Apalagi sistem SNMPTN dari sononya itu kita enggak pernah tahu bagaimana caranya si A atau si B lolos atau tidak. Merah dan hijau adalah sebuah kejutan.
Artinya, jangan terlalu mengharapkan SNMPTN (ini saran yang kudengar dari banyak orang dan sepertinya efektif karena terdengar logis). Carilah langsung solusi dari kemungkinan terburuk (baca : kalian enggak lolos SNMPTN) agar kalian bisa langsung siap dan enggak kelamaan stress kalau hal buruk datang. That’s a strategy, bukan maksudnya pesimis.
Lagipula, kita juga enggak bisa hanya berpatokan pada satu jalur masuk PTN bukan? Masih banyak jalur lainnya seperti jalur mandiri/UM selain SBMPTN juga.

2. Being Realistic
Dari tadi tips-nya enggak enak amat wkwk.
Ini dari guru BK saya. Setiap jurusan di PTN pasti punya peluang kelulusannya dan itu didasarkan pada nilai untuk SNMPTN sendiri. Namun, terlebih dahulu lihat dulu nilai kalian.
*autongeceknilai* *nangis* *iniguefix*
Itu adalah poin dari berpikir rasional. Mungkin terdengar kejam, sih. Karena ada beberapa dari kita yang benar-benar pengen masuk jurusan tertentu di PTN tertentu, tapi jurusan PTN itu terlalu tinggi jika kita harus diterima di jurusan PTN tersebut dengan nilai yang seadanya. Kalau kita lihat dengan menggunakan perasaan, jelas it’s hurts. Tapi kalau kita lihat menggunakan sisi logika, artinya kita harus mundur dan enggak memaksakan diri untuk masuk jurusan di PTN itu kalau benar-benar mau diterima lewat SNMPTN. Strategi yang ‘kejam’ untuk perasaan yak.
Hanya saja, kalau kalian ngebet untuk masuk jurusan tertentu, dilansir dari salah satu artikel zenius.net 5 Kesalahan Umum yang Bikin Lo Gagal Masuk Universitas, jangan mengambil PTN yang terlalu berat untuk jurusan tersebut.  
Tapi, saya yakin. Tuhan pasti punya jalan terbaik untuk kalian semua semua :)
Btw kalau kata guru saya, makanya belajar biar nilainya tinggi-tinggi. Siyap.

3. Plis Jangan Maksa Orang Lain Buat Masuk PTN Yang Kamu Tunjuk
Katanya sih ada pergeludan semacam ini.
“Woi lu masuk PTN A aja, biar gue bisa masuk PTN B.”
Si A maksa B, si B enggak mau. Gelud. Atau si A maksa B, si B iyain, dan ternyata dua-duanya enggak lolos.
Kalau kata guru saya, nilai kamu ya nilai kamu. Nilai dia ya nilai dia. Percuma udah maksa-maksa orang kalau ternyata enggak ada satupun yang lolos –guru BK, 2018.

4. Belajar Yang Rajin
Tips macam apa ini, you don’t say.
‘Belajar Yang Rajin’ sesungguhnya adalah kata-kata yang sangat mudah untuk diucapkan, tetapi susah untuk dilakukan. Apalagi buat generasi kelas 12 K13. Mau fokus SBMPTN atau memperbaiki nilai untuk SNMPTN, tapi malah dihantam sama tumpukan tugas yang bikin malas (oke, ini curhat)
Tapi, ternyata ini adalah tip paling utama lho.
Untuk tips-tips belajar, mungkin akan di-share lain kali saat saya udah bisa melakukannya. Begitu pula dengan Tips Masuk PTN Part 2 kalau ilmu saya nambah (?) Sekian.

Sumber : dari omongan orang-orang dan pelajaran BK dua minggu yang lalu, serta zenius.net.

Sajak | Prologue : Start

How to make a little journey?
When you feel that your heart is empty, when you feel that you couldn’t love yourself?
How to start a story?
When you feel that you’re the worst thing, when you feel that you will meet the failure

The prologue of the story has started
Smell like a piece of paper from new book, make all the fire and explotion
Spirit, love, life
We are the natural warrior, aren’t we?

Fall, stand up, fall, stand up again
Stand up, fall, stand up and jump
Hide the weakness inside
Jump, then fall again

Is it normal?
Always falling and falling, is it normal?
Yes, exactly
But it’s weird when you won’t get up

Selasa, 18 September 2018

Puisi | Bait-Bait Permulaan

Sebuah kata yang tak pernah sampai, berhembus dari langit
Melewati bumi, membawa pesan dari alam semesta
Jagalah penghuninya, jagalah ketentraman mereka
Jaga mereka dari konflik yang berkecamuk di luar dan dalam
Karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk mereka
Mereka dan seluruh isi bumi yang berharga

Para penghuni bumi selalu mengumandangkan kata damai, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya
Jangankan dengan orang lain, dengan diri sendiri pun mereka berkonflik
Sejujurnya, konflik dengan diri sendiri hampir terjadi setiap hari
Berusaha untuk memahami orang lain, namun merasa tak dipahami dunia
Berulang kali bertanya, untuk apa aku berada di sini?
Untuk apa aku diciptakan, apa tujuanku yang sebenarnya?

Untuk itu, izinkan aku menyampaikan bait-bait permulaan
Untukmu, yang sedang berkonflik
Untukmu, yang sedang bertanya-tanya mengenai eksistensimu sendiri
Kau adalah ciptaan Tuhan yang pasti dibuat sesempurna mungkin, karena kau adalah manusia
Kau penuh dengan cerita, hidupmu seperti sebuah film yang sedang tayang

Entah kapan tamatnya, tetapi nikmati saja, kita semua menyukainya

Minggu, 16 September 2018

Cerpen | Saat Bintang Terjatuh (bagian terakhir)



“Dek, bangun.”
Dengan berat, aku membuka mata. Seorang pelayan restoran menungguku dengan raut wajah sungkan.
“Eum, maaf Dek,” katanya. “Tadi, adek ketiduran di atas trotoar, tepat di depan restoran ini. Jadinya saya bawa ke sini sama temen-temen saya.”
Seketika, aku terlonjak.
“Serius, Mbak? Sekarang jam bera—"
Pertanyaanku pun dipotong tiba-tiba oleh sekelompok pelayan perempuan dan seorang kasir wanita yang berteriak di depan televisi dekat meja kasir. Rupanya, tayangan televisi itu menampilkan wajah Lamda yang tengah diwawancarai di salah satu acara talkshow.
“Eum, baru jam tujuh lewat lima, sih. Adek emangnya boleh keluar malem-malem sendirian?”
“Enggak apa-apa, soalnya rumah saya deket sini—“
“YAK MAS LAMDA!”
“BERISIK BANGET, SIH!” teriak pelayan yang berdiri di dekatku, sudah gerah dengan kelakuan norak teman-temannya. Sementara itu, mulutku tanpa sadar menggumamkan nama Lamda. Sontak pelayan itu menoleh ke arahku, senyum tersungging di wajahnya.
“Wah, si Adek penggemar Mas Lamda juga, toh?” tanyanya.
Perlahan aku menyunggingkan senyum sopan, kemudian bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan mbak pelayan restoran itu. Namun, langkahku terhenti dan aku membalikkan badan ke arahnya untuk menjawab pertanyaannya tadi. Bagiku, pertanyaan itu penting. Sangat penting untuk memastikan bahwa aku sudah berhenti untuk terlalu mencintai Lamda atau belum.
“Enggak juga, sih, Mbak.”
Setelah mengatakan hal itu, aku pamit dan meninggalkan restoran yang ternyata adalah tempat aku dan Lamda makan bersama di dalam mimpi.
Saat aku keluar, aku menemukan pemandangan yang sama. Orang-orang yang berjalan bersama-sama di atas trotoar, berbagai kendaraan yang melaju di jalan, cahaya lampu yang mengisi sudut setiap toko, lampu-lampu jalan yang disusun berderet untuk menerangi jalan dan trotoar, serta langit bertabur bintang yang mengelilingi cahaya rembulan. Namun, aku merasa ada yang berubah dari dalam diriku. Aku merasa, kelak aku akan melupakan Lamda seiring aku tumbuh dewasa. Aku akan menertawakan diriku sendiri yang terlalu mencintai Lamda, padahal rasa cinta ini akan kembali kepada yang pantas menerimanya.
Aku adalah Sonia, dan hidupku adalah aku serta hal-hal paling berharga yang ada di sekitarku. Keluargaku, teman-temanku, guru-guruku di sekolah. Bahkan ketika mereka tak bisa membuatku berharga, aku masih punya penciptaku. Yang jelas, aku akan lebih mencintai diriku sendiri dan tidak akan menyiksa diriku lagi.
Karena bintang jatuh telah memberiku pelajaran yang berharga.
Apapun yang kuinginkan, belum tentu baik untukku. Apapun yang kucintai, itu akan membuat hatiku kosong bila ia menutup kedua telingaku dan menggelapkan pandanganku.
Malam ini, aku mencintai Lamda untuk terakhir kalinya.
--**--**--


THE END
Find me on Wattpad : kataihitam ;)

Cerpen | Saat Bintang Terjatuh (bagian 2)


Sejak saat itu, aku dan Lamda menjadi dekat, persis seperti yang kuharapkan tatkala melihat bintang jatuh. Setiap malam, kami selalu bertemu di trotoar, persis di depan toko buku. Hal itu terus terulang, sampai akhirnya Lamda mengajakku berjalan ke pasar malam yang dibuka di sekitar tempat kami biasa bertemu. Kami berjalan sampai ke ujung salah satu toko yang berjejer rapi di samping trotoar. Di seberang jalan, terlihat bianglala yang bercahaya, komedi putar, dan stan-stan makanan.
Jantungku berdegup kencang tatkala Lamda menggenggam tanganku dengan kuat saat kami menyebrang jalan. Namun, dia buru-buru melepaskannya saat kami sampai di pasar.
“Jangan salah paham,” katanya sambil memalingkan wajah dariku dan mengelus tengkuknya. “Aku menggenggam tanganmu karena sepertinya kamu enggak bisa nyebrang. Kalau kamu tertabrak mobil, aku yang repot. Aku enggak mau kamu merepotkanku.”
“Yah, padahal aku ju-juga bisa nyebrang sendiri,” Aku menunduk sembari mengatur detak jantungku yang semakin tidak karuan. Setelah itu, aku menunjuk bianglala yang berada tak jauh dari kami. Aku ingin sekali naik itu, toh aku juga ingin merasakan kebahagiaan bersama Lamda. Maksudku, aku ingin Lamda bahagia meskipun aku tahu kehidupannya penuh dengan rasa sakit. Sepertiku, dia berjalan sendirian di trotoar. Merenungi hidup, sama sepertiku.
“Ayo naik bianglala itu.”
“Yang benar saja, lebih baik kita duduk di atas kursi panjang itu,” Lamda menunjuk kursi panjang kosong yang tadi kami lewati, lalu menatapku dengan tatapan memelas. “Sedari tadi kita sudah berjalan jauh. Aku capek.”
“Lamda, kita berjalan ke sini dari tempat kita ketemu itu cuman makan waktu lima menit…,” Omonganku terhenti begitu Lamda terus memasang tampang memelasnya. Aku menghela napas. “Oke, oke,” kataku. “Kalau begitu ayo kita istirahat dulu, baru naik bianglala. Ngomong-ngomong kamu kelihatan kayak kucing, sumpah.”
“Kalau aku terlihat seperti kucing, mungkin kamu tikusnya.”
“Enggak, bahkan terkadang kamu terlihat seperti beruang,” Aku menghempaskan diriku di atas kursi, kemudian menatap ke atas langit bertabur bintang. Membentuk konstelasi dengan beragam bentuk, mereprentasikan berbagai legenda yang dipercayai oleh Yunani.
“Siapa yang mengajarimu ngomong kayak gitu?”
“Ya kamu. Mau siapa lagi?"
Hening seketika. Aku masih menatap langit sampai akhinya kurasakan ada tangan yang menggenggam tanganku, lalu mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jariku. Sontak, aku menoleh ke arah si beruang yang ada di sampingku. Rupanya, dia tertidur. Namun, dia juga terus mengaitkan jari-jarinya padaku sambil bergumam tidak jelas. Wajahnya terlihat lelah.
“Kamu pasti benar-benar lelah, kan?” Aku berbicara padanya, namun sebenarnya aku berbicara sendiri karena Lamda sedang tidur, terbuai oleh angin malam. Untungnya kami berdua selalu memakai jaket tebal. “Lamda yang aku tau adalah seorang penulis berbakat, sangat berbakat. Lamda selalu menyemangati orang-orang yang membaca karyanya untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Kamu hanya perlu menunggu tiga tahun lagi, tiga tahun itu enggak akan lama kalau dibandingkan dengan lamanya kamu menyimpan rasa sakit itu. Sama sepertimu, aku juga sangat tertutup pada dunia. Selalu menatap dunia dengan dingin, tetapi sebenarnya kita sangat ambisius.”
“Aku terinspirasi oleh banyak hal darimu,” lanjutku. “Sebelum bintang jatuh dan harapanku terkabul, aku adalah calon istrimu…ah, maksudku seorang fans fanatik dari masa depan yang berharap akan bertemu denganmu dalam masa-masa kamu masih bocah seusiaku. Seorang anak berusia 17 tahun yang bergelut dengan mimpi, aku ingin merasakan hari-hariku bersamaku. Terakhir, kuucapkan terima kasih atas fanservice-nya selama ini. Tetapi, sebenarnya kamu melupakan satu hal. Bahkan kepadaku, kamu masih menyimpan erat-erat rasa sakit yang kamu rasakan. Padahal, aku juga ingin merasakannya.”
Mendadak, dia terbangun. “Kenapa kamu mau merasakan sakitku?” tanyanya dengan suara serak.
Aku tersentak, jantungku memburu. “Kamu dengar ucapanku tadi?”
“Ya.”
“Bukannya kamu tidur?”
“Enggak, aku pura-pura tidur,” Dia terkekeh.
Menyebalkan.
“Aku tau kalau aku hanya perlu menunggu tiga tahun,” kata Lamda. “Tiga tahun sampai aku dipuja-puja. Tetapi, orang-orang itu berlebihan. Kenapa mereka harus memuja-mujaku secara berlebihan? Aku hanya manusia biasa, bahkan sampai kulitku keriput seperti kakek-kakek pun aku juga tetap manusia, bukan dewa. Sama sepertimu, kamu yang nanti akan selalu menyebut namaku di dalam hatimu, kan?”
Aku melongo. Apa yang dia bicarakan?
Tetapi, pada akhirnya aku hanya mengiyakan.
“Padahal, sebenarnya kita enggak ada hubungan sama sekali. Aku enggak habis pikir…”
Tiba-tiba, aku tersadar. Kalau dia memang benar Lamda, dia tidak mungkin tahu apa yang akan terjadi tiga tahun ke depan. Mungkinkah… bintang jatuh yang kulihat waktu itu adalah awal dari ilusi? Mendadak jantungku berdegup kencang. Aku menelan ludah.
“Jadi, kamu bukan Lamda?”
“Memang bukan,” Lamda menanggapiku dengan santai, kemudian melepaskan tangannya dariku. “Aku Lamda yang tercipta dari alam bawah sadarmu,” katanya. “Sejak kita bertabrakan di atas trotoar depat toko, kemudian menjadi dekat, aku bukanlah Lamda dari masa lalu. Tetapi, aku adalah apa yang ada di dalam pikiranmu.”
Aku mengerjap-ngerjap. Dengan kurang ajarnya aku berpikir, sepertinya Tuhan sedang mempermainkan aku. Sejak awal jatuhnya bintang, kemudian aku berlari dan menabrak ‘Lamda’, makan malam bersama di restoran, saling bertemu setelah itu dan berakhir dengan duduk bersama di pasar malam, Lamda itu bukanlah Lamda dari masa lalu? Tuhan, aku mencintai Lamda. Sangat mencintainya. Aku ingin merasakan sakitnya, aku ingin bahagia bersamanya. Mengapa ini semua sangat kejam untukku?
“Enggak, kamu enggak dipermainkan. Ini hanyalah teguran halus,” kata Lamda. “Saat kamu makan, kamu berpikir apakah aku sudah makan atau belum. Saat kamu tidur, kamu berpikir apakah aku sempat tidur atau tidak. Saat aku menangis, kamu akan ikut menangis. Saat aku tertawa, kamu akan ikut tertawa. Tetapi, duniamu menjadi sempit karenanya. Kamu menjadi buta dan tuli sama hal-hal di sekitarmu, karena duniamu sendiri adalah aku, duniamu adalah Lamda.”
Aku menggeleng, ini benar-benar menyakitkan. Setelah bergelut dengan perasaanku sendiri, seketika logika kembali menguasaiku. Sebenarnya, aku dan Lamda punya hubungan apa? Kami memang tidak jauh berbeda. Kami sama-sama dingin, ambisius, dan merasa rapuh di dalam. Hanya saja, Lamda terlihat lebih kuat. Ada begitu banyak orang yang mencintainya, dan dia tidak tahu aku. Jadi, kalau aku meninggalkannya mungkin dia tidak akan peduli. Tetapi, naluriku kembali memberontak. Sebenarnya aku adalah bagian dari Lamda, jadi aku tidak mau meninggalkannya.
Sial, ini benar-benar ujian untukku. Tuhan sekarang tengah mengujiku, apakah aku akan memilih diriku sendiri atau hidup Lamda yang sebenarnya tidak ada hubungannya denganku, seperti dipisahkan oleh jurang yang lebar.
“Saat kamu sedih dan hatimu merasa kosong, kamu menjadikan fotoku, video anehku selama di Amerika atau Hongkong, dan buku-bukuku yang memang memotivasi. Aku juga buat lagu di Youtube, dan kamu selalu menikmatinya tengah malam sembari menangis. Kamu memang merasa tenang, tetapi setelah itu hatimu kosong lagi. Kamu selalu menangis tanpa sebab, dan saat itu kamu mengingatku. Lalu kapan kamu mengingat Tuhan? Aku cuman manusia, kamu lebih butuh yang paling berkuasa untuk hati kosongmu.”
Hatiku merasa tersentil.
Kecintaanmu terhadap sesuatu membuatmu buta dan tuli, Sonia.
Aku tidak mau lagi memikirkan Lamda, aku hanya ingin sebatas mengaguminya saja. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah terlanjur buta dan tuli. Sembari merenung, aku mengalihkan tatapanku ke atas langit. Seketika, kulihat bintang jatuh di dekat rembulan berbentuk setengah telur dadar. Mulutku komat-kamit, aku memanjatkan doa kepada Tuhan yang sudah menegurku saat bintang terjatuh.
Terkadang, Tuhan memang tidak mengabulkan apa yang kita inginkan. Karena Tuhan tahu, hal itu sebenarnya tidak baik untuk kita. Aku mencintai Tuhan, aku ingin mencintai-Nya lebih dari Lamda. Lamda hanya manusia yang tidak pernah merindukanku. Sejatinya, hanya Tuhan yang merindukan aku. Dia membuat hatiku terus kosong, bahkan saat aku melihat Lamda sekalipun. Dia melakukan hal itu agar aku bisa mengisi hatiku dengan nama-Nya.
Sejak saat itu, aku bertekad untuk menghapus nama Lamda demi kebaikanku sendiri.

--**--**--

(Bersambung ke part terakhir)

Cerpen | Saat Bintang Terjatuh (bagian 1)


Malam itu, di bawah kumpulan konstelasi dan cahaya rembulan yang berbentuk seperti setengah telur dadar, aku berjalan sendirian menyusuri kota. Kurapatkan jaket hitam tebal kesayanganku untuk menghalau angin yang berusaha untuk menusuk. Langkahku berjalan menyusuri trotoar, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan bersama-sama. Lampu di sudut-sudut pertokoan seakan menampilkan etalase dengan barang-barang yang terpajang dengan apik di sana, serta buku-buku best seller dengan judul yang sama. Ketika aku melewati toko televisi, wajah yang sama muncul di balik layar yang berjajar memenuhi etalase.
Aku menghela napas. Siapa yang tidak mengenalnya?
Lamda. Seorang laki-laki berusia 20 tahun yang terlihat dingin, dan wajahnya pucat seperti vampir yang biasa kulihat di film-film. Namun, terkadang dia juga terlihat seperti anak kucing dalam kardus yang menunggu pengasuh. Popularitas menyelubungi wajahnya, dia seperti wajah baru dunia. Buku-buku karangannya berjejer di seluruh toko buku, toko buku di seluruh belahan dunia. Para gadis berbisik-bisik membicarakannya, mengagumi segala aspek dari dalam dirinya, dan memberikan cinta yang besar untuknya.
Termasuk aku. Tetapi apalah aku, aku bernapas saja dia tak tahu.
Aku mencintainya, sungguh. Aku sangat sayang padanya. Bukan sayang padanya sebagai seorang laki-laki, tapi mungkin lebih dari itu. Entahlah, memang sangat sulit untuk menjelaskannya. Lamda adalah inspirasiku, karena dialah aku tetap menulis walaupun terkadang lelah dan ingin berhenti. Lamda mengajariku tentang kehidupan, dan menuliskan rasa sakitnya dalam buku-buku karangannya.
Rasa sakit itu, rasa sakit yang bisa dirasakan pula oleh orang-orang sepertiku.
Saat kedua mataku tertuju ke arah langit, tiba-tiba sebuah bintang jatuh melintas. Mulutku komat-kamit memanjatkan doa. Jika Tuhan mau mengabulkan doaku, aku punya suatu permintaan yang besar. Aku ingin pergi ke masa lalu, bertemu dengan Lamda dan menemaninya dalam mengejar mimpi. Merasakan rasa sakit yang sama secara langsung, dan tumbuh dewasa bersamanya.
“Ketika kau berlari dan akan menabrak seseorang yang menghadangmu, teruslah berlari, bodoh.”
Aku memejamkan mata, membayangkan kutipan dalam salah satu bukunya itu. Langkahku menjadi tak terkendali, dan aku benar-benar berlari. Tidak peduli pada siapapun yang akan menghadangku, aku terus berlari.
“Aku hanya seorang bocah yang peduli pada mimpi. Aku terlihat dingin di mata orang lain, tetapi aku ingin mereka mengerti. Tetapi, itu tidak mungkin. Aku saja tidak mengerti dengan diriku sendiri…”
--**--**--

“YAK! YA AMPUN!”
Tiba-tiba, aku merasakan benturan yang keras dengan seseorang. Tubuhku terhuyung, dan aku terjatuh. Perlahan kubuka kedua mataku, dan melihat Lamda kecil sedang menatapku dengan tajam sembari memiringkan kepalanya. Aku cepat-cepat bangkit, kemudian menatap Lamda tidak percaya. Apakah dia memang benar-benar Lamda?
“Kenapa lari-lari sambil memejamkan mata begitu?” tanyanya.
“Maaf, maaf,” Aku terkekeh gugup, dan jantungku berdebar-debar. Lamda terlihat berjalan sendirian di trotoar ini, sama sepertiku. Setelah itu, kedua mata kecilnya menatap ke arah etalase toko buku yang memuat novel-novel legendaris. Aku ingin lebih dekat dengannya, tetapi aku merasa canggung.
“Eum,” ujarku sembari mengelus tengkuk. Kutatap novel-novel yang ada di balik kaca toko tersebut, sama seperti yang dilakukan Lamda saat ini. “Buku-bukunya bagus, ya,” Aku mencoba untuk berbasa-basi. Namun, basa-basi dengan orang yang sama introvert-nya denganmu mungkin akan menjadi hal yang buruk.
“Aku…ingin menghiasi etalase toko itu dengan novel-novelku.” Dia bergumam, seakan menanggapi basa-basi burukku.
Lantas aku tersenyum, rasanya kaget juga. Ini adalah hal yang paling ajaib untukku. Tuhan mengabulkan doaku saat bintang jatuh melintas. Tuhan mengabulkan keinginanku untuk pergi ke masa lalu dan bertemu dengan Lamda kecil, seorang Lamda sebelum menjadi penulis best seller Internasional dan mengenalnya.
Ini sangat gila, rasanya seperti berada dalam mimpi. Benar-benar tidak masuk akal, tetapi aku ingin menikmatinya.
“Kamu punya teman?” tanyaku. Saat dia menatapku dengan tatapan tajamnya, sontak aku tersenyum gugup. “Ah.. iya, mak-maksudku, aku enggak keberatan kalau jadi te-temanmu.”
Lamda masih menatapku dengan tatapan tajamnya, membuatku merasa seperti diintimidasi. “Kenapa kamu mau jadi temanku?”
“Ka-karena kita punya mimpi yang sama,” jawabku. “Jadi, kupikir kita bisa berteman.”
Tak kusangka, Lamda tersenyum tipis dan tatapannya melembut. Di bawah cahaya rembulan dan lampu jalan yang menghiasi pinggiran trotoar, Lamda dengan versi yang lebih muda dari Lamda yang kukenal memalingkan wajahnya dariku. Dengan malu-malu, dia mengulurkan tangannya sembari mengusap tengkuk dengan tangan yang satunya lagi. Aku ikut tersenyum malu, tidak berani menatap wajahnya. Jadi, aku hanya menatap ke arah sepasang sepatu kumalku sembari menyambut uluran tangannya.
“Sonia.”
“Lamda.”
Ya, aku tahu itu.
“Sepertinya kita sepantaran,” ujar Lamda. “Eh, Sonia. Perutku lapar. Apa kamu mau ikut aku makan di restoran sekitaran sini?”
Aku menatap Lamda yang kini terlihat malu-malu, dan juga terlihat seperti kucing kelaparan. Rupanya, sedari dulu Lamda memang sudah mengingatkanku pada hewan kesukaanku itu. Sekarang, aku mengerti mengapa aku begitu terobsesi padanya, selain karena dia adalah inspirasiku. “Sebenarnya, aku belum makan siang,” ujarnya tanpa berani menatapku. “Selama liburan aku selalu terlambat makan siang karena kebanyakan tidur.”
Suara kekehanku langsung keluar. Aku tahu itu, aku tahu banyak hal tentang Lamda. Media-media mengatakan bahwa Lamda adalah pecinta tidur sejati, sampai aku berpikir bahwa dia akan tetap tertidur di atas kasurnya walaupun kamarnya dilanda kebakaran. Rupanya, Lamda menyadari hal itu dan ikut terkekeh. “Ayo,” katanya.
Akhirnya, sepanjang perjalanan kami saling menanyakan makanan dan minuman kesukaan masing-masing. Jelas aku tahu selera Lamda, karena aku selalu mencari tahu infonya. Sebagai penulis paling berpengaruh di dunia versi sebuah majalah di Amerika, orang-orang juga banyak mencari tahu tentang Lamda lewat mesin pencarian di internet, dan sejumlah wawancara di berbagai talkshow. Tak hanya aku, gadis-gadis lainnya juga sangat mencintai Lamda sampai-sampai ingin memasakkan makanan kesukaannya kelak jika mereka menikah. Sangat delusional, menurutku. Namun, aku tidak bisa munafik juga bila tak mengakui bahwa salah satu impianku adalah menikah dengannya.
Namun, Lamda yang ada di sampingku saat ini hanyalah seorang bocah yang bergelut dengan mimpinya dan sejumlah rasa sakit akibat ambisinya sendiri yang diremehkan banyak orang. Bukankah aku sudah berharap pada Tuhan untuk ikut merasakan rasa sakit yang dia rasakan?
“Ya ampun, kamu makan terlalu terburu-buru,” ujarku saat melihat Lamda yang duduk di hadapanku tengah melahap nasi goreng daging cincangnya, kemudian menghabiskan kopinya dalam sekali teguk.
Malam itu, restoran yang kami kunjungi sudah sepi pengunjung. Hanya ada beberapa pelayan yang mengelap meja kotor dan satu keluarga dengan satu anak kecil di salah satu sudut ruangan. Aku menatap ke arah luar kaca jendela yang berada tepat di sampingku. Terlihat berbagai kendaraan yang melintas di jalan dan orang-orang yang berlalu lalang di atas trotoar.
“Kapan kamu mau menghabiskan nasi gorengmu? Apa mau kamu bungkus saja dan nasinya kamu jadikan masker di rumah?”
Kuhela napasku perlahan sembari menatap nasi yang masih tersisa di atas piringku. Perutku sudah kenyang. Sementara itu, Lamda kembali memesan kopi pada pelayan yang sedang mengelap meja kotor di samping meja kami. Dengan susah payah kuhabiskan nasi itu, ditemani omelan Lamda yang malas menungguku terlalu lama.
“Aku enggak habis pikir, kamu makan lama banget. Apa lambungmu terlalu malas untuk mencerna makanan?”
Aku memutar bola mata, kemudian menghabiskan nasi gorengku dengan penuh perjuangan. Tak kusangka, Lamda mengambil sendoknya dan mengambil sesuap nasi dari piringku. “Kubantu,” katanya.
Sontak wajahku memanas. Di luar, Lamda memang terlihat dingin dan bicaranya menyebalkan. Namun, sebenarnya dia baik. “Kalau kamu udah kenyang, jangan terlalu dipaksakan. Bungkus saja atau berikan padaku. Jangan memaksakan diri,” katanya sembari menyuapkan nasi ke mulutnya. Saat aku melihat kedua pipi putihnya yang menggembung ketika mengunyah makanan, aku menahan hasrat seorang gadisku untuk tidak berteriak.

--**--**--
(Bersambung ke bagian 2)

Sebuah Esai Part 2 | Identitas Nasional